27 Juni 2008
Renungan sampah dari kardus
Ditulis oleh M Asrul Azwar Full ++ dan telah dikomentari sebanyak 89 buah
Di tengah perjalanan dan teriknya kota bandung dengan mengendarai motor sungguh memaksa tubuhku untuk beristirahat dan meneguk segelas es kelapa muda. Indra perasaku pun merasa seperti Raja yang di kelilingi ribuan wanita cantik, atau laksana seorang musafir di tengah gurun pasir yang menemukan sebuah "oase" dan kalo kata pak bondan " Mak Nyosss ". setelah meneguk " Es kelapa muda".
Itulah arti kenikmatan sejati ketika kita sedang membutuhkan dan tiba - tiba ada di hadapan kita, dan setelah rasa kenikmatan muncul dalam hati, akan timbul rasa kepuasan, dan kemudian beranjak perasaan itu bisa memompa sampai pada titik relatif tak hingga dan selanjutnya bisa saya diskripsikan menjadi kata " AKU SENANG atau BAHAGIA ".
itu sebuah alur perasaan yang kualami pada saat itu tapi sayang kenikmatan tersebut hanya sebatas sementara saja, sampai dahagaku hilang.
mungkin seperti layaknya kita puasa ketika pas berbuka terasa nikmat banget, tapi setelah kenyang kayaknya hanya sebuah emosi yang sesaat.
sambil menikmati segelas " Es Kelapa Muda" mataku tertuju kepada seorang pria tua yang berjalan sambil membawa kardus bekas dan di taruh dalam pundaknya, entah mau di bawa kemana tapi dalam pengamatanku kardus tersebut sepertinya sangat berguna sekali. Saya jadi teringat nenek saya, yang dulunya punya toko sebuah Roti di Pasar Mojoagung, dan selalu menumpuk kardus bekas roti, serta menyimpan dengan rapihnya. Bertumpuknya kardus tersebut membuatku saya berpikir untuk meminta kepada nenek dan rencana aku mau buat mainan mobil - mobilan yang besar (waktu itu di sekolah saya baru saja di ajarkan membuat maenan dari kertas dan saya berniat membuat maenan mobil-mobilan yang dulunya dari kertas saya ganti menjadi kardus), tapi ibuku selalu melarang nenek untuk memberikan kardus tersebut kepada saya dan ibu selalu bilang kardus - kardus tersebut di jual bukan untuk mainan, dalam hatiku yang polos aku merasa ibuku tidak ingin aku mengotori rumah dengan guntingan - guntingan kertas nantinya. Walaupun saya menerangkan kepada mereka bahwa saya berjanji bahwa ini adalah proyek yang kecil kemungkinan gagal tidak akan mengotori rumah serta akan membereskan dengan rapih, tetap saja ibuku menolaknya, karena ibu sangat lebih mengerti anaknya. Dan terlintas dalam pikiranku bahwa ibuku sengaja bohongi aku karena nenekku bukan pedagang kardus, tapi pedagang Roti, dan kardus - kardus tersebut adalah sampah serta tidak bisa di jual atau jadikan uang.
itulah pikiran seorang anak kecil yang tidak lain adalah saya ketika jaman dulu kala, yang masih berpkir sesuatu yang tidak berguna adalah sampah, dan masih belum mengerti untuk bisa merubah sampah menjadi sesuatu yang bernilai.
ketika saya melihat si bapak tua tadi yang memanggul kardus - kardus kardus di punggungnya, aku yakin kardus si bapak tersebut tidak di gunakan sebagai maenan anaknya, apalagi untuk maenan dirinya, dan pikiranku berkata bahwa kardus tersebut akan di jual.
Sungguh yang berpikiran segala sesuatu yang tidak berguna adalah sebuah sampah, dan sampah tidak ada manfaatnya, maka mungkin dia adalah anak kecil seperti pada saat saya meminta kardus kepada nenek saya (pada saat itu saya baru kelas 1 SD baru lulus dari TK).
Lantas di dunia ini apakah ada hal yang tidak berguna (sampah) yang tidak bisa di daur ulang?, menurut aku sih kayaknya tidak ada deh, kalau pun ada, pasti suatu saat akan ada manusia yang lahir dan menciptakan trobosan - terobosan baru untuk mendaur ulang sampah yang masih belum berguna tersebut. Seperti kata "limbah" yang merupakan sampah pabrik dan tidak bisa di daur ulang, ternyata bisa di daur ulang juga.
Loh lantas apa sih sebenarnya inti saya menulis hal ini?
saya hanya berharap kepada para pembaca yang budiman terutama buat saya sendiri, untuk lebih berhati-hati dalam menilai sesuatu yang tidak bermanfaat, dan menafsirkan suatu bentuk, seperti zat, dan lain sebagainya apalagi sampai mengolongakan sampah kedalam bentuk sesuatu yang tidak bermanfaat.
apalagi sampai berkata " Dasar orang itu mirip sampah, sukanya bikin rusuh saja", " mulut dia seperti sampah, lebih baik diam, bikin penyakit saja", " Dasar Tulisan Blog dan smsnya itu sampah dan ga bermanfaat"
kata di atas hanya sebuah contoh saja dan para pembaca sekalian dilarang meniru adegan tersebut di atas. (kata - kata di atas diambil dari sinetron "bukan sampah biasa" yang akan segera saya sutradarai) 
Jadi kata slogan yang sering kita lihat dan dengar seperti " Jangan buang sampah sembarangan" atau " buanglah sampah pada tempatnya" sebenarnya maknanya dalam banget dan luas, yang juga bisa berarti kita harus berhati - hati dalam menjaga sikap jangan sembarangan, dan selalu bersikaplah pada tempatnya.
serta janganlah sekali - kali kita menganggap remeh sesuatu yang tidak bermanfaat seperti, sampah, limbah, atau yang lainnya, karena suatu saat mungkin yang tidak bermanfaat tadi bisa menolong kita.
yah... yang penting mah kita kudu ingat untuk selalu melupakan kebaikan kita dan mengingat kesalahan - kesalahan yang kita perbuat, biar ga jatuh ke dalam kesalahan yang sama.
mari jangan lupakan sampah.... dan hayuk... urang sadayana bareng - bareng ikutan bebersih bandung, bareng batagor, serta mari kita bangun bangsa dan negara kita dengan mulai menjadikan hal yang ga bermanfaat menjadi manfaat.
OK.... 

Subcribe RSS of this blog